
YOGYAKARTA – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Kantor Wilayah Kementerian Hukum DIY mengajak seluruh jajaran untuk menjadikan momen ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah diri dan memperbaiki kualitas pribadi maupun kinerja.
Kepala Kanwil Kemenkum DIY, Agung Rektono Seto menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum refleksi mendalam atas apa yang telah dilakukan, baik sebagai pribadi maupun sebagai aparatur negara.
Menurutnya, nilai-nilai Ramadhan mengajarkan kedisiplinan, kejujuran, empati, serta pengendalian diri. Seluruh jajaran di lingkungan Kanwil Kemenkum DIY diharapkan mampu menjadikan bulan penuh berkah ini sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan meningkatkan integritas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
“Ramadhan adalah kesempatan emas untuk bermuhasabah. Kita diajak untuk melihat ke dalam diri, mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki, dan memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Agung.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kerendahan hati dalam setiap pencapaian dan keberhasilan. Mengutip pepatah, Agung menyampaikan pesan reflektif bahwa “langit tak perlu mengatakan dirinya tinggi.” Makna tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa kualitas dan integritas seseorang akan terlihat dari perbuatan, bukan dari pengakuan diri.
“Kerja yang baik tidak perlu dibanggakan berlebihan. Biarlah hasil dan manfaat yang dirasakan masyarakat menjadi bukti. Kerendahan hati adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Agung berharap semangat Ramadhan dapat mempererat solidaritas antarpegawai serta memperkuat budaya kerja yang humanis dan berorientasi pada pelayanan publik. Ia menekankan bahwa integritas dan keikhlasan dalam bekerja merupakan bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual.
Melalui momentum Ramadhan ini, Kanwil Kemenkum DIY berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan hukum kepada masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan semangat introspeksi, perbaikan berkelanjutan, dan ketulusan dalam pengabdian.
Ramadhan diharapkan menjadi titik tolak pembaruan diri tidak hanya secara spiritual, tetapi juga dalam membangun etos kerja yang lebih profesional, rendah hati, dan penuh tanggung jawab.



